MANFAAT MOLTING PADA AYAM PETELUR
Oleh : Agus Triyanto, M.Si
Apa
itu molting? Sebagian dari peternak pasti sudah
mengenal istilah tersebut. Ya, nama lain molting adalah rontok
bulu. Dalam masa hidupnya, seekor unggas akan mengalami suatu periode di mana bulu-bulu
yang terdapat pada tubuhnya lepas dan berganti dengan bulu-bulu yang baru.
Keadaan demikianlah yang dikenal dengan istilah molting.
Jadi, molting adalah suatu proses perontokan bulu yang biasa
dialami oleh unggas setelah mencapai masa produksi tertentu. Berbagai jenis
unggas, seperti itik, ayam kampung petelur, ayam Arab, serta ayam petelur
komersial bisa mengalami molting. Selama
ini proses molting memang masih jarang dipraktekkan oleh
peternak ayam. Biasanya ayam petelur yang telah memasuki umur 80 minggu akan
langsung diafkir dan dijual di pasar. Meski begitu ternyata ada pula sebagian
kecil peternak yang tidak langsung mengafkir, tetapi lebih memilih
melakukan molting pada ayam tuanya. Kira-kira apa alasan
dilakukannya molting dan apa saja manfaat yang bisa diperoleh
peternak? Berikut bahasannya. Prinsip
utama force molting adalah memberikan masa istirahat bertelur bagi ayam tua.
Agar ayam bisa beristirahat, maka kita perlu memberikan “cekaman” pada ayam,
barulah produksi telur terhenti dan alat-alat reproduksinya akan mengalami
“perbaikan”.
Beberapa
contoh metode force molting di antaranya dengan mengurangi jumlah ransum secara
bertahap, memuasakan ayam tanpa diberi ransum sama sekali selama beberapa
waktu, atau merubah susunan formulasi ransum. Namun, dari beberapa metode
tersebut, yang paling sering dilakukan di lapangan adalah metode kedua yaitu
memuasakan ayam.

Proses force molting yang
dilakukan pada ayam petelur yang sudah tua memang memiliki beberapa efek
positif, di antaranya:
·
Setelah force
molting, yaitu ketika bulu baru sudah tumbuh, ayam akan kembali bertelur
meski jumlah produksinya tidak setinggi masa bertelur normal. Produksi telur
biasanya bervariasi sekitar 10-30% lebih rendah dari normalnya, tergantung
status kesehatan dan tingkat cekaman stres yang dialami ayam. Untuk gambaran
saja, sebelum force molting selama satu periode yaitu dari
umur 20-80 minggu, satu ekor ayam rata-rata bisa menghasilkan 20 kg telur.
Sedangkan setelah force molting, ayam hanya mampu memproduksi 11-12
kg telur. Selain itu, ayam yang telah mengalami force molting masa
produksinya lebih singkat. Kalau dari umur 20 mingguan sampai afkir bisa
berproduksi selama 50-60 minggu, tetapi setelah proses force molting biasanya
ayam hanya berproduksi sekitar 25-30 minggu, kemudian diafkir. Proses force
molting ini hanya dilakukan satu kali.
·
Setelah force molting, kualitas
telur yang dihasilkan akan lebih baik, di mana ukuran telur bisa lebih
besar/berat dari normal dan warna kerabang lebih baik. Menurut penelitian
Widodo (2008), dilaporkan bahwa program force molting memberikan
hasil yang memuaskan terhadap kualitas telur. Kerabang telur menjadi coklat
kembali dan kualitas kerabang lebih tebal.
·
Molting mampu melanjutkan produksi dan memperbaiki kualitas
telur tersebut melalui proses peremajaan ayam. Hal ini disebabkan adanya
perbaikan fungsi ovarium (penghasil sel telur) oleh sel atau jaringan baru
(Barua et al., 2001). Menurut North dan Bell (1990), programforce
molting dalam kondisi tertentu dipandang lebih menguntungkan dalam
banyak hal, di antaranya lebih hemat biaya ransum, serta bisa memperbaiki
kualitas dan produksi telur.
Comments
Post a Comment